PANGKEP SULSEL - Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jurnalis Nasional Indonesia (JNI) Cabang Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Herman Djide, mengajak para petani membudayakan penggunaan pupuk kompos, pupuk organik cair, serta pestisida alami yang diproduksi secara mandiri.
Ajakan tersebut disampaikan seusai melakukan panen perdana dengan pemakaian pupuk kompos dan pupuk cair organik BioSubur produksi Komunitas Pangkep Agro Lestari, panen padi seluas 1 hektar di Dusun Parang Luara, Desa Bantimurung, Kecamatan Tondong Tallasa, Kabupaten Pangkajene, Minggu (21/2/2026).
Menurutnya, kemandirian petani dalam memproduksi pupuk sendiri menjadi langkah strategis untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga kesuburan tanah. Ia menilai, ketergantungan terhadap pupuk kimia dalam jangka panjang justru berdampak kurang baik terhadap kondisi lahan sawah.
“Sudah saatnya jerami seusai panen dimaksimalkan menjadi pupuk kompos. Begitu juga pupuk cair dan pestisida alami, bisa dibuat sendiri oleh petani. Ini lebih hemat dan ramah lingkungan, ” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa jerami yang selama ini kerap dibakar atau dibiarkan begitu saja, sesungguhnya memiliki nilai ekonomis tinggi. Dengan pengolahan yang tepat, jerami dapat berubah menjadi pupuk kompos yang kaya unsur hara dan sangat bermanfaat untuk memperbaiki struktur tanah.
Di tengah meningkatnya harga pupuk kimia, penggunaan pupuk kompos dan pupuk organik cair menjadi alternatif terbaik dalam mendukung pertanian berkelanjutan. Selain mengurangi biaya, langkah ini juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem tanah.
Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, lanjutnya, dapat menyebabkan tanah menjadi keras dan kehilangan unsur hara alami. Struktur tanah menjadi padat, mikroorganisme berkurang, dan daya serap air menurun sehingga hasil panen tidak lagi optimal.
Sebaliknya, pupuk kompos mampu membuat tanah lebih gembur dan subur secara alami. Kandungan bahan organik di dalamnya dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air dan unsur hara, terutama saat menghadapi musim kemarau.
Selain kompos padat, pupuk organik cair juga dinilai praktis dan mudah diaplikasikan. Pupuk cair dapat dibuat dari jerami, kotoran ternak, maupun sisa tanaman lainnya melalui proses fermentasi sederhana yang bisa dilakukan di tingkat petani.
Herman Djide juga mendorong agar setiap petani memiliki tempat khusus untuk pembuatan kompos, baik berupa lubang tanah maupun menggunakan terpal sederhana. Dengan adanya fasilitas tersebut, proses pengomposan dapat berjalan rutin dan terkontrol.
Gerakan menjadikan jerami sebagai kompos, menurutnya, bukan sekadar solusi pertanian, tetapi juga bagian dari upaya menjaga lingkungan. Pembakaran jerami yang sering terjadi pascapanen dapat mencemari udara dan merugikan kesehatan masyarakat.
Ia berharap kelompok tani dan pemerintah setempat dapat memberikan pelatihan serta pendampingan teknis mengenai cara pembuatan kompos, pupuk cair, dan pestisida alami. Edukasi yang berkelanjutan akan mempercepat perubahan pola pikir petani menuju sistem pertanian yang lebih mandiri.
Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar lahan, petani tidak hanya mampu mengurangi pengeluaran, tetapi juga meningkatkan kualitas hasil panen. Pertanian berkelanjutan dinilai menjadi kunci menjaga ketahanan pangan daerah.
“Jerami jangan lagi dianggap limbah. Jadikan itu emas hijau yang menghidupi sawah kita, ” tutupnya penuh harap, sembari mengajak seluruh petani di Kabupaten Pangkajene Kepulauan untuk bersama-sama membangun pertanian yang lebih sehat, hemat, dan berkelanjutan. ( Yayat)

6 days ago
3

















































